Review

Info
Studio : Blinding Edge Pictures/Blumhouse Productions/Buena Vista International
Genre : Drama, Mystery, Sci-Fi
Director : M. Night Shyamalan
Producer : M. Night Shyamalan, Jason Blum, Marc Bienstock, Ashwin Rajan
Starring : James McAvoy, Bruce Willis, Samuel L. Jackson, Sarah Paulson, Anya Taylor-Joy

Sabtu, 19 Januari 2019 - 12:47:24 WIB
Flick Review : Glass
Review oleh : Amir Syarif Siregar (@Sir_AmirSyarif) - Dibaca: 406 kali


Selalu ada kejutan yang berhasil diterapkan sutradara M. Night Shyamalan dalam setiap film yang diarahkannya. Kejutan tersebut bukan hanya datang dari pelintiran plot penceritaan dalam filmnya namun, seperti yang diketahui oleh para penikmat film-filmnya, juga hampir selalu datang dari kualitas presentasi keseluruhan film-film tersebut. Setelah meraih sukses besar sekaligus mendapatkan kredibilitas tinggi sebagai sosok sutradara yang cerdas lewat film-filmnya seperti The Sixth Sense (1999) – yang memberikannya nominasi Best Director di ajang The 72nd Annual Academy Awards, Unbreakable (2000), Signs (2002), dan The Village (2004), siapa yang dapat menyangka jika karir Shyamalan akan mendapatkan hantaman beruntun ketika film-filmnya Lady in the Water (2006), The Happening (2008), The Last Airbender (2010), dan After Earth (2013) tidak hanya mendapatkan reaksi negatif dari para kritikus film dunia namun juga gagal untuk mendapatkan kesuksesan komersial yang maksimal. Namun, tentu saja, karir Shyamalan tidak lantas mati dan berhenti pada deretan kegagalan tersebut. Bekerjasama dengan produser Jason Blum, Shyamalan merilis The Visit (2015) dan Split (2017) yang sekali lagi – kejutan! – membangkitkan ketertarikan dunia pada kemampuan sutradara berkewarganegaraan Amerika Serikat tersebut dalam merangkai kisah-kisah tak biasanya. 

Selain mengangkat kembali reputasi Shyamalan sebagai seorang sutradara, perilisan Split ternyata turut menghadirkan sebuah kejutan ketika Shyamalan menghadirkan sebuah adegan yang menghubungkan film tersebut dengan filmnya terdahulu, Unbreakable. Kini, Shyamalan menghadirkan Glass yang ditujukan sebagai sekuel bagi Split sekaligus seri penutup bagi sebuah trilogi yang dahulu telah dibuka oleh Unbreakable. Berlatarbelakang waktu pengisahan tiga minggu semenjak deretan konflik yang sebelumnya diceritakan dalam Split, tiga karakter utama dari Unbrekable dan Split, David Dunn (Bruce Willis), Elijah Price (Samuel L. Jackson), serta Kevin Wendell Crumb – dan 24 kepribadiannya (James McAvoy), dikisahkan sedang ditahan sekaligus dirawat di sebuah institusi mental pimpinan Dr.  Ellie Staple (Sarah Paulson). Dr. Ellie Staple percaya bahwa baik David Dunn, Elijah Price, maupun Kevin Wendell Crumb sama sekali tidak memiliki kekuatan super seperti yang mereka percaya. Ia kemudian mendiagnosa ketiga pria tersebut dengan penyakit kejiwaan dan berusaha untuk melakukan penyembuhan. Namun, seperti yang dapat diduga, ada sebuah rencana besar yang mengintai dalam proses penyembuhan tersebut.

Selayaknya film-film yang ditulis dan diarahkan oleh Shyamalan, Glass menampung ide atau tema besar dalam linimasa pengisahannya. Melalui perantaraan jabaran akan berbagai karakteristik konflik maupun karakter yang biasa ditemukan dalam buku-buku komik, Shyamalan ingin menekankan sebuah pesan tentang bagaimana setiap individu memiliki keunikannya masing-masing yang sekaligus dapat menjadi kekuatan super mereka. Sebuah “pesan moral” yang jelas layak untuk dikisahkan namun, sayangnya, terkubur terlalu jauh dalam struktur pengisahan Glass yang disajikan Shyamalan secara setengah matang. Glass sendiri sebenarnya dimulai dengan langkah yang meyakinkan. Paruh awal pertama kisahnya melanjutkan perjalanan misteri dari karakter Kevin Wendell Crumb dan puluhan kepribadian yang berada di kepalanya sebelum akhirnya ia dipertemukan secara langsung dengan karakter David Dunn. Juga kemudian disusul dengan kehadiran karakter Elijah Price di dalam linimasa cerita, Glass secara perlahan mulai berjalan di tempat dengan Shyamalan terus terjebak dengan narasi komik yang ingin ia sampaikan. Narasi tersebut disampaikan Shyamalan melalui karakternya lagi, dan lagi, dan lagi, dan mengisi penuh paruh kedua penceritaan Glass. Shyamalan terasa seperti tidak memiliki opsi yang tepat untuk mengembangkan idenya sebelum akhirnya mendorong penceritaan filmnya untuk bergerak maju.

Selain membuang terlalu banyak waktu dengan narasi dangkal dan setengah matangnya, Shyamalan juga tidak mampu untuk memberikan ruang pengisahan yang mumpuni bagi karakter-karakter selain dari karakter Kevin Wendell Crumb dalam penceritaan Glass. Karakter Casey Cooke (Anya Taylor-Joy) yang memiliki peran yang krusial dalam film Split nyaris tidak berguna kehadirannya disini. Hal yang sama juga dapat dirasakan pada karakter Dr. Ellie Staple, David Dunn, dan, terlebih lagi, Elijah Price yang sebenarnya hadir untuk menciptakan konflik yang lebih kuat dan besar namun diolah dengan elemen misteri yang tidak begitu meyakinkan. Kedua karakter tersebut terkesan sengaja disimpan Shyamalan untuk memproduksi paruh ketiga yang akhirnya benar-benar terasa hidup. Ide yang tidak jelek sebenarnya. Namun, dengan tata pengolahan paruh pertengahan film yang nyaris mati dan begitu membosankan, pengisahan yang dihadirkan pada paruh akhir Glass akhirnya terasa tidak begitu berguna. Untuk menghadirkan detak kehidupan dalam jalan cerita filmnya, Shyamalan lantas memanfaatkan karakter Kevin Wendell Crumb dan menugaskan McAvoy untuk menampilkan deretan kepribadian dari karakter yang ia perankan secara intensif. Penampilan McAvoy memang masih sangat meyakinkan. Meskipun begitu, layaknya sebuah misteri yang kemudian mulai menemukan deretan petunjuk untuk penyelesaiannya, penampilan McAvoy mulai terasa hambar dan kehilangan daya tariknya.

Tentu saja, hal yang paling mengecewakan dari Glass adalah bagaimana Shyamalan menyia-nyiakan kesempatan dan ekspektasi yang telah terbangun akan pertemuan tiga karakter krusial dari dua film sebelumnya untuk menghasilkan sebuah film yang lebih mengesankan. Pada akhirnya, Glass terjebak menjadi sebuah presentasi yang terlalu berhasrat untuk terlihat cerdas dengan berbagai referensi dunia komiknya namun kemudian gagal untuk meraih sebuah alur pengisahan yang benar-benar menarik sekaligus tidak membuat mereka yang bukan penikmat komik merasa kebingungan dengan apa yang ingin disampaikan Shyamalan. Jelas sebuah pilihan artistik yang beresiko dan, sayangnya, Shyamalan, sekali lagi gagal untuk menterjemahkan ide gila yang berada di kepalanya agar dapat dimengerti oleh orang-orang selain dirinya.

Rating :

Share |


Review Terkait :

Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.