Review

Info
Studio : Annapurna Pictures
Genre : Drama, Musical
Director : Kang Hyeong-cheol
Producer : Lee An-na, Yoo Sung-kweon
Starring : Do Kyung-soo, Park Hye-su, Jared Grimes, Oh Jung-se, Kim Min-Ho

Rabu, 16 Januari 2019 - 18:17:07 WIB
Flick Review : Swing Kids
Review oleh : Amir Syarif Siregar (@Sir_AmirSyarif) - Dibaca: 508 kali


Berlatar belakang lokasi pengisahan di Kamp Tahanan Geoje yang berada di Korea Selatan – yang digunakan untuk menahan para tawanan perang di saat berkecamuknya Perang Korea pada awal tahun 1950an, Swing Kids menyajikan sebuah kisah fiksi tentang persahabatan yang terjalin antara seorang tentara Amerika Serikat berkulit hitam, Jackson (Jared Grimes), seorang tentara Komunis asal Korea Utara, Ro Ki-soo (Do Kyung-soo), seorang tentara China bernama Xiao Fang (Kim Min-ho), seorang anti Komunis yang sedang berusaha menemukan kembali istrinya, Kang Byung-sam (Oh Jung-se), serta seorang wanita yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan uang dan bertahan hidup, Yang Pan-rae (Park Hye-su). Meskipun memiliki ideologi dan tujuan hidup yang berbeda-beda, kelimanya kemudian disatukan oleh rasa cinta mereka pada seni tari yang mereka anggap mampu membebaskan jiwa mereka di saat fisik mereka terpenjara akibat peperangan yang tak kunjung usai. Jalinan hubungan cinta dan persahabatan yang lantas mampu membawa mereka bertahan melalui berbagai problema kehidupan. 

Swing Kids jelas berbeda dengan tiga film yang diarahkan oleh Kang Hyeong-cheol sebelumnya – Scandal Makers (2008), Sunny (2011), dan Tazza: The Hidden Card (2014) yang seluruhnya berhasil meraih kesuksesan komersial luar biasa dan menjadikan Kang sebagai salah satu sutradara tersukses di industri perfilman Korea Selatan. Diadaptasi dari drama panggung musikal yang berjudul Rho Ki-soo, Swing Kids terasa bagaikan usaha Kang untuk berbicara mengenai banyak hal yang krusial pada dunia, khususnya mengenai berbagai isu sosial dan politik yang memang sedang menghangat saat ini. Well… dengan durasi pengisahan yang mencapai 133 menit, Kang jelas tidak memiliki masalah yang berarti untuk mengajak penontonnya berbincang mengenai masalah kesenjangan sosial, rasialisme, hingga perang antar ideologi yang meskipun dikisahkan terjadi pada awal tahun 1950an namun jelas masih terasa relevan dengan kehidupan modern saat ini. Namun, di saat yang bersamaan, “kebebasan” waktu berkisah yang diberikan pada Kang justru gagal untuk dimanfaatkan dengan baik sehingga Swing Kids seringkali berputar pada berbagai macam problema tanpa pernah mampu menampilkannya secara meyakinkan.

Dengan kata “swing” yang berada pada judulnya dan kisah mengenai sekelompok orang yang mengekspresikan dirinya lewat musik dan tarian sebagai tema ceritanya, tentu tidaklah sukar untuk mengharapkan Swing Kids untuk tampil sebagai sebuah presentasi musikal. Meskipun begitu, Swing Kids bukanlah La La Land (Damien Chazelle, 2016). Elemen musik dan tari dalam film ini – tergarap dengan koreografi yang memikat serta mendapatkan iringan musik dari Louis Jourdan, The Isley Brothers, hingga David Bowie – memang menjadi sajian yang mampu membuat siapapun terkesima. Namun, ketika elemen tersebut tiada, Swing Kids berubah menjadi sebuah drama yang dipenuhi dengan atmosfer pengisahan suasana perang yang kelam. Paruh penceritaan ini yang seringkali terasa bermasalah. Kehadiran banyak konflik serta karakter di dalam linimasa pengisahannya seringkali tampil tanpa pengolahan yang matang sehingga lebih sering memberikan kebingungan dan sentuhan emosional yang datar daripada mampu menjadi cerita yang lebih mengikat.

Terlepas dari deretan kelemahan yang menyelimuti pengisahannya, Swing Kids akan tetap mampu tampil menyenangkan dan menghibur – khususnya, tentu saja, ketika film ini sedang menjelajahi paparan musikalnya. Kekurangan Kang dalam memberikan garapan cerita yang lebih kokoh cukup mampu “disembunyikan” dengan keberhasilannya dalam merangkai cerita filmnya dalam desain produksi dan kualitas teknis yang meyakinkan. Kang juga beruntung memiliki lima pemeran utama yang mampu memberikan penampilan akting terbaik guna menghidupkan karakter-karakter mereka. Do – yang juga merupakan anggota kelompok musik asal Korea Selatan, Exo – dan Park, khususnya, mampu memberikan penampilan yang mengesankan dalam setiap adegan mereka. Secara keseluruhan, Swing Kids adalah presentasi yang apik meskipun sering dihambat oleh penceritaannya yang kurang fokus dan disampaikan terlalu berlarut-larut.

Rating :

Share |


Review Terkait :

Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.