Review

Info
Studio : GoodHouse Production, CJ Entertainment
Genre : Horror
Director : Kimo Stamboel
Producer : Kimo Stamboel, Wida Handoyo, Edwin Nazir
Starring : Caitlin Halderman, Jefri Nichol, Marsha Aruan, Irsyadillah, Susan Sameh, Cicio Manassero

Sabtu, 05 Januari 2019 - 23:07:46 WIB
Flick Review : DreadOut
Review oleh : Haris Fadli Pasaribu (@oldeuboi) - Dibaca: 521 kali


Di sepanjang sejarah perfilman, adaptasi video game biasanya berkualitas tidak memuaskan, bahkan buruk jika kita merujuk pada film-film kreasi Uwe Boll. Meski begitu rupanya produser dan sineas tidak gentar untuk terus menerus mengangkat video game populer ke layar lebar. Kini, giliran perfilman Indonesia yang mencoba menjamah ranah tersebut melalui DreadOut, yang diangkat dari game lokal yang dikembangkan oleh Digital Happiness.

DreadOut – rilis tahun 2014 – memang cukup membanggakan, karena karya anak negeri ini tidak hanya mampu mengumpulkan jumlah pemain yang besar namun juga terangkat namanya ke pentas internasional. Mungkin karena Indonesia lekat dengan yang namanya klenik, maka game DreadOut pun masih seputaran mistik dan mitos lokal yang diolah menjadi permainan survival horror menegangkan.

Kini ada Kimo Stamboel, salah satu dari Mo Brothers (selain Timo Tjahjanto), yang dipercaya duduk di bangku sutradara. Ekspektasi jelas besar, mengingat Kimo bersama Timo sudah memiliki resume mengesankan di ranah horor atau aksi, seperti Rumah Dara atau film Iko Uwais, Headshot.

Sebagaimana Timo yang sudah beraksi solo dengan dua film sekaligus (Sebelum Iblis MenjemputThe Night Comes For Us, keduanya rilis 2018), maka DreadOut menjadi ajang pembuktian bagi Kimo sebagai sutradara tunggal. Sayangnya, sebagaimana poster DreadOut yang memiliki komposisi visual buruk, film garapan Kimo ini pun hadir dengan kurang memuaskan.

Harus diakui, secara teknis, DreadOut terlihat mengilap. Contohlah sisi sinematografi, desain suara, tata artistik, atau efek khusus yang cukup memuaskan. Tapi secara esensi kopong. Masalah terbesar boleh disematkan pada naskah tulisan Kimo.

Dari segi plot, DreadOut masih berkisah tentang sekelompok remaja yang berhubungan dengan alam supernatural yang mengancam. Karakter Linda dari video game diperankan oleh Caitlin Halderman (Surat Cinta Untuk Starla), dan didukung oleh sekumpulan karakter artifisial yang tugasnya hanyalah sebagai plot device dan diperankan Jefri Nichol, Marsha Aruan, Susan Sameh, Irsyadillah dan Ciccio Manassero.

Plot tipis seharusnya tidak masalah, karena sebagaimana genre game-nya, survivalDreadOut versi film memang berniat menggambarkan bagaimana para remaja ini bertahan hidup dari teror supernatural. Hanya saja, muncul pertanyaan apakah Kimo pernah memainkan game-nya atau tidak, karena rasa-rasanya DreadOut terlalu terjebak dalam klise film horor kebanyakan ketimbang formula video game. Bahkan gimmick ponsel yang menjadi kekuatan dalam game terasa mubazir atau tersiakan dalam versi filmnya.

Belum lagi repitisi dalam plot yang kerap terjadi yang membuat film terasa mengulur-ngulur durasi ketimbang menjadi plot yang padat atau signifikan. Diperparah dengan kurang koheren-nya logika sebab-akibat dalam film yang menyebabkan banyak pertanyaan yang bahkan hingga film usai tetap tidak dielaborasi jawabannya. Lobang-lobang menganga di ceritanya bisa menjadi pembahasan tersendiri pula.

Seolah-olah Kimo tidak tahu lagi mau mengembangkan alur film mau kemana. Hilangkan semua adegan tidak penting dan eliminir repetisi, niscaya film akan menjadi lebih padat, meski rasa-rasanya juga menjadi amat singkat. Setengah jam juga kelar barang kali.

Padahal ada juga film adaptasi game sejenis yang cukup bernas dalam menggali alur dengan dinamika menarik, seperti Silent Hill (2006) arahan Christophe Gans misalnya. Film dengan cermat mengajak penontonnya untuk terlibat dalam pengalaman karakternya memasuki wilayah antah-berantah di dalamnya mengikuti alur ala video game yang menjadi dasarnya, sementara tetap menjaga sisi emosional dan aspek psikologis agar film menjadi kaya dimensi.

DreadOut adalah tentang pengalaman, tapi bukan dimensi. Penonton jadinya tidak memiliki keterikatan dengan karakter atau pun kisah mereka. Kimo terlalu fokus pada teknis namun terlupa jiwa. Walhasil, meski ada beberapa jump scare yang efektif dan upaya membangun atmosfer mencekam, tetap saja secara keseluruhan ia datar dan miskin nuansa “dread” atau kengerian itu sendiri.

Infusi beberapa adegan kocak menjadi penyelamat DreadOut dari kejenuhan. Walau begitu, dengan banyaknya adegan konyol dalam film, sulit untuk meraba mana yang memang disengaja atau dikerjakan serius meski jatuhnya malah komedik. Dengan demikian, meski usahanya untuk menambah variasi tema horor film Indonesia, kompetensi DreadOut jelas harus dipertanyakan.

Rating :

Share |


Review Terkait :

Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.