Review

Info
Studio : Walt Disney Pictures/Lucamar Productions/Marc Platt Productions
Genre : Comedy, Family, Fantasy
Director : Rob Marshall
Producer : Rob Marshall, John DeLuca, Marc Platt
Starring : mily Blunt, Lin-Manuel Miranda, Ben Whishaw, Emily Mortimer, Julie Walters

Rabu, 26 Desember 2018 - 19:55:53 WIB
Flick Review : Mary Poppins Returns
Review oleh : Amir Syarif Siregar (@Sir_AmirSyarif) - Dibaca: 353 kali


Memiliki latar belakang waktu pengisahan 25 tahun semenjak berbagai konflik yang dikisahkan pada Mary Poppins (Robert Stevenson, 1964), Mary Poppins Returns bercerita tentang kembalinya sang pengasuh yang memiliki kekuatan magis, Mary Poppins (Emily Blunt), ke kediaman keluarga Banks untuk menemui Michael Banks (Ben Whishaw) dan Jane Banks (Emily Mortimer) yang kini telah menjelma menjadi sosok pria dan wanita dewasa. Kembalinya Mary Poppins bukannya tanpa alasan. Setelah istrinya meninggal dunia, Michael Banks dilanda kekalutan dalam usahanya untuk merawat ketiga anaknya, Annabel Banks (Pixie Davis), John Banks (Nathanael Saleh), dan Georgie Banks (Joel Dawson), dengan hanya dibantu oleh Jane Banks dan pengurus rumah mereka, Ellen (Julie Walters). Problema keluarga Banks menjadi semakin rumit setelah Michael Banks lupa untuk membayar cicilan pinjamannya ke bank yang membuat rumah kediamannya bersama anak-anaknya terancam untuk disita. Seperti yang dialami Michael Banks dan Jane Banks di masa kecilnya, Mary Poppins lantas mengambil alih tugas untuk merawat anak-anak ketika Michael Banks kemudian berpacu dengan waktu untuk mendapatkan solusi agar tidak kehilangan rumah yang telah menjadi bagian dirinya seumur hidup. 

Jelas sudah bukan sebuah rahasia lagi jika Mary Poppins Returns adalah sebuah sekuel yang semenjak lama telah berusaha diwujudkan oleh Walt Disney. Disney bahkan telah merancangnya setahun semenjak perilisan Mary Poppins – yang ketika dirilis berhasil meraih kesuksesan komersial sekaligus meraih 13 nominasi di ajang The 37th Annual Academy Awards dan memenangkan lima diantaranya termasuk kategori Best Actress in a Leading Role untuk Julie Andrews. Sialnya, seperti yang juga diketahui oleh khalayak luas, ide keberadaan sekuel tersebut ditolak mentah-mentah oleh penulis seri buku Mary Poppins, P. L. Travers, yang menilai bahwa Disney telah merusak nilai dan visi yang ia miliki pada karakter Mary Poppins lewat adaptasi film yang diproduksinya. Well… lebih dari lima dekade semenjak perilisan Mary Poppins, Disney berhasil mewujudkan keinginannya – tentu saja melalui perantaraan rumah produksi Walt Disney Pictures. Dan melihat apa yang ditampilkan Mary Poppins Returns, Travers mungkin memiliki alasan yang tepat untuk benar-benar membenci Disney atas apa yang dilakukannya pada Mary Poppins.

Mary Poppins Returns sendiri bukanlah sebuah film yang buruk. Dengan berbagai ekspektasi tinggi yang jelas akan diterapkan banyak orang berkat legendarisnya kualitas film pendahulunya, sutradara Rob Marshall berhasil merancang sebuah film musikal keluarga yang menyenangkan lewat deretan lagu, tata kostum, tata rias, desain produksi, dan tata koreografi yang mewah, megah, dan penuh warna. Namun, di saat yang bersamaan, sulit untuk menyangkal bahwa Mary Poppins Returns tersaji dengan kualitas penulisan cerita yang terasa cukup dangkal – jika tidak ingin menyebutnya sebagai karya yang hampa. Naskah cerita garapan David Magee (Life of Pi, 2012) terasa hanya mampu untuk berjalan pada satu konflik cerita untuk kemudian mengisinya dengan, tentu saja, adegan-adegan musikal dan beberapa konflik pengalih perhatian yang kurang esensial. Kehampaan pada eksplorasi kisah Mary Poppins Returns tampil begitu mencolok khususnya pada paruh kedua pengisahan yang berisi adegan-adegan pengisi waktu yang disampaikan secara bertele-tele serta diiringi beberapa lagu yang tidak begitu terasa istimewa.

Dengan dangkalnya penggalian kisah yang disajikan Magee, mungkin akan lebih bijaksana jika Marshall menyajikan filmnya dalam durasi pengisahan yang lebih padat. Tentu, Marshall mampu mengelaborasikan setiap elemen kisah petualangan dari karakter-karakter anak dalam film ini dengan baik – bahkan mampu tampil menghipnotis di beberapa bagian. Bukan sebuah hal yang cukup mengejutkan dari sutradara yang juga pernah menggarap film-film musikal seperti Chicago (2002), Nine (2009), dan Into the Woods (2014). Namun, daya tarik tersebut jelas secara perlahan akan memudar ketika deretan kisah tersebut disajikan bagai bagian kisah yang terus mendistraksi rasa penasaran penonton pada konflik utama yang kemudian terpinggirkan. Hal ini masih ditambah dengan ketidakmampuan Magee untuk menyajikan karakter-karakter pendukung yang terasa lebih berbobot. Karakter Mary Poppins memang tampil memikat dan menjadi pusat perhatian namun Mary Poppins Returns jelas akan tampil lebih berkesan dengan kehadiran karakter antagonis yang lebih kuat atau bahkan karakter Michael Banks dan Jane Banks yang lebih aktif terlibat dalam linimasa pengisahan.

Terlepas dari berbagai kelemahan yang ada, Mary Poppins Returns diberkahi barisan pengisi departemen akting yang mampu menghadirkan penampilan yang begitu memikat secara maksimal. Karakter-karakter yang diperankan Whishaw, Mortimer, Walters, Lin-Manuel Miranda, atau Colin Firth memang kurang maksimal namun penampilan mereka jelas tampil berkelas. Begitu juga Meryl Streep yang mampu mencuri perhatian lewat satu adegan yang menghadirkan penampilannya. Para pemeran anak-anak Banks turut memberikan andil yang kuat dalam menambah daya pikat yang dimiliki film ini. Blunt sendiri tampil dengan kharisma yang akan sanggup membuat siapapun jatuh cinta kepadanya. Jelas tidak mudah untuk membayangkan sosok lain selain Andrews mengisi posisi sebagai Mary Poppins namun Blunt, lewat nyanyian, tarian, senyuman, atau bahkan kerlingan matanya, mampu menghidupkan karakter tersebut dengan sempurna. She’s definitely born to follow Andrews for the role.

Rating :

Share |


Review Terkait :

Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.