Review

Info
Studio : Starvision, Miles Films
Genre : Drama, Comedy
Director : Ernest Prakasa
Producer : Chand Parwez Servia, Mira Lesmana, Fiaz Servia
Starring : Sissy Prescillia, Dennis Adhiswara, Ernest Prakasa, Julie Estelle, Dian Sastrowardoyo, Adinia Wirast

Sabtu, 22 Desember 2018 - 13:23:05 WIB
Flick Review : Milly & Mamet
Review oleh : Haris Fadli Pasaribu (@oldeuboi) - Dibaca: 564 kali


Meski hanya berstatus sebagai karakter pendukung, tapi Milly (Sissy Priscillia) dan Mamet (Dennis Adhiswara) merupakan salah dua karakter ikonik dari Ada Apa Dengan Cinta? (2002). Tidak heran saat dalam Ada Apa Dengan Cinta? 2 (2016) disebutkan keduanya telah menikah, kita tidak benar-benar kaget. Sekali lagi Milly dan Mamet mencuri perhatian penonton setelah 14 tahun, sehingga muncul penasaran bagaimana kisah romansa Milly dan Mamet bisa terjalin.

Kini ada jawabannya, karena sudah ada spin-off AADC yang berkisah tentang Milly dan Mamet dalam Milly & Mamet. Tentu saja pemilihan nama kedua karakter ini menjadi judul karena sebagai “brand” mereka sudah cukup kuat (meski heran juga produser seperti tidak percaya diri sehingga perlu menambahi embel-embel sub-judul seperti “Ini Bukan Cinta & Rangga.”). Kejutannya, komika sekaligus sutradara spesialis komedi, Ernest Prakasa (Cek Toko Sebelah, Susah Sinyal), dilibatkan sebagai penanggung jawab sempalan pertama semesta AADC ini.

Sissy dan Dennis kembali melanjutkan peran mereka sebagai Milly dan Mamet. Setelah sempat secuil menjelaskan mengapa Milly dan Mamet akhirnya bisa berpacaran (dengan geng AADC lain, Cinta (Dian Sastrowardoyo), Karmen (Adinia Wirasti) dan Maura (Titi Kamal) sebagai penggembira di latar), Milly & Mamet langsung tancap gas mengulik kehidupan mereka sebagai pasutri muda yang baru saja dianugerahi seorang putra bernama Sakti.

Masalah-masalah pasangan muda menjadi wacana yang diangkat, seperti eksistensi Mamet sebagai kepala keluarga dan menantu dari mertuanya (Roy Marten) dan Milly yang terbiasa kerja kini merasa hidupnya “kosong” karena kesehariannya hanya mengurusi anak dan menunggu suami pulang.

Sementara itu, tiba-tiba muncul sahabat lama Mamet, Alexandra (Julie Estelle), yang mengajaknya untuk kembali mengejar passion yang lama terpendam, mendirikan sebuah restoran yang bisa menyalurkan idealisme Mamet sebagai cheft. Ada James (Yoshi Sudarso), pacar kaya-raya Alex yang siap mendukung dari segi permodalan.

Naskah yang ditulis Ernest bersama sang istri, Meira Anastasia, berjalan dengan mode autopilot. Kita sudah mengendus ke mana arah plot bergulir bahkan dari 10 menit pertama. Friksi yang melibatkan persinggungan kepentingan antara Milly dan Mamet menjadi penegas konflik film. Hanya saja, karena ini film Ernest Prakasa, tentu bukan melodrama berlarat-larat yang disajikan.

Masalahnya, meski dihadirkan melalui presentasi renyah, Milly & Mamet berjalan dengan esensi seringan kapas. Padahal ide ceritanya cukup bernas dan bisa menggali efek psikologis tentang konsep rumah tangga bagi pasutri pemula seperti Milly dan Mamet. Ada potensi mengangkat peran sosial seorang istri dan suami dalam konteks kontemporer, meski tidak terangkat maksimal. Walhasil, semua konflik berakhir mudah. Intinya Milly & Mamet menderita oversimplifikasi yang cukup signifikan.

Mungkin Ernest mengira karena ini film komedi, maka tidak usah berat-berat dalam membahas isunya. Padahal ya tidak musti begitu juga. Komedi pun boleh memiliki bobot juga kok, sehingga pesannya bisa lebih berkesan lagi ketimbang numpang lewat dan terkesan trivial seperti dalam Milly & Mamet. Belum lagi berbagai kejanggalan logika dalam naskah terasa cukup mengganggu. Misal, sebagai sahabat memang Alex tidak pernah diundang di pernikahan Mamet? Atau setidaknya disebut-sebut dalam pembicaraan Mamet bersama Milly semasa pra-menikah.

Milly & Mamet juga masih mengalami masalah seperti film-film Ernest lain; porsi komedi dan drama yang kurang proporsional. Barisan karakter sampingan aneh bin ajaib memenuhi film (seperti yang diperankan oleh Ernest sendiri, selain Arafah Rianti, Aci Resti, Bintang Emon, Dinda Kanyadewi dan yang paling pecah, Isyana Saraswati), sehingga mendistraksi efektivitas plot utama.

Padahal Milly dan Mamet itu sendiri sudah cukup lucu. Sissy dan Dennis pun membuktikan jika comedic timing mereka pun tak kalah efektif selain berakting dramatis. Namun rupanya Ernest tidak terlalu percaya diri dengan dua karakter utama ini.

Semenjak era AADC, Milly dan Mamet memang diniatkan sebagai comic relief, meski komedi mereka terasa lebih organis dan membumi sehingga terasa lekat, karena karakter mereka manusia utuh dengan segala dimensi luasnya. Sedangkan karakter-karakter pemancing tawa dalam Milly & Mamet lebih condong sebagai karikatur ketimbang karakter utuh sehingga secara nuansa bertabrakan dengan Milly dan Mamet itu sendiri. Atau bahkan semesta Ada Apa Dengan Cinta yang lebih mengedepankan komedi situasi ketimbang bodoran konyol ala Ernest.

Rating :

Share |


Review Terkait :

Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.