Review

Info
Studio : Columbia Pictures/Marvel Entertainment/Tencent Pictures/Arad Productions/Matt Tolmach Productions/Pa
Genre : Action, Horror, Sci-Fi
Director : Ruben Fleischer
Producer : Avi Arad, Matt Tolmach, Amy Pascal
Starring : Tom Hardy, Michelle Williams, Riz Ahmed, Reid Scott, Jenny Slate

Minggu, 07 Oktober 2018 - 19:27:47 WIB
Flick Review : Venom
Review oleh : Amir Syarif Siregar (@Sir_AmirSyarif) - Dibaca: 295 kali


Masih ingat dengan Venom – sosok antagonis yang muncul akibat perpaduan dari karakter seorang jurnalis bernama Eddie Brock (Topher Grace) dengan sesosok makhluk angkasa luar yang disebut dengan “symbiote” – yang dahulu sempat muncul sebagai salah satu musuh bagi Peter Parker/Spider-Man dalam Spider-Man 3 (Sam Raimi, 2007)? Well… setelah melalui proses pengembangan selama bertahun-tahun, Sony Pictures yang bekerjasama dengan Marvel Entertainment akhirnya berhasil memproduksi film tunggal bagi karakter tersebut yang sekaligus akan menjadi salah satu film pemula bagi Sony’s Universe of Marvel Characters – semesta pengisahan yang dibentuk dan diproduksi oleh Sony Pictures berdasarkan kisah dan karakter buatan Marvel Comics. Diarahkan oleh Ruben Fleischer (Gangster Squad, 2013), film yang diberi judul Venom ini tampil sebagai sebuah origin story yang bercerita mengenai asal muasal dari sang karakter utama. Cukup menjanjikan, khususnya ketika Fleischer berhasil memberikan kualitas garapan yang cukup seimbang dengan film-film hasil adaptasi dari Marvel Comics lainnya. 

Dengan naskah cerita yang digarap oleh Jeff Pinkner (The Dark Tower, 2017), Scott Rosenberg (Jumanji: Welcome to the Jungle, 2017), dan Kelly Marcel (Fifty Shades of Grey, 2015), Venom memulai kisahnya dengan memperkenalkan karakter utama dalam jalan penceritaan film ini, Eddie Brock (Tom Hardy). Digambarkan sedang berada dalam situasi kehidupan yang berantakan setelah kehilangan kekasih, Anne Weying (Michelle Williams), dan pekerjaannya sebagai seorang jurnalis, Eddie Brock mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki kembali hidupnya dengan cara mengungkap konspirasi yang terjadi di dalam perusahaan Life Foundation yang diduga telah membunuh para sukarelawan perusahaannya lewat sebuah program yang dijalankan oleh sang pemilik perusahaan, Carlton Drake (Riz Ahmed). Dengan bantuan Dr. Dora Skirth (Jenny Slate), Eddie Brock berhasil menyusup ke dalam Life Foundation dan menemukan bahwa Carlton Drake telah menyusupkan sejumlah organisme asing dari luar angkasa yang kemudian digunakannya secara ilegal dalam penelitiannya. Sial, dalam penyusupannya, Eddie Brock dihinggapi oleh organisme yang disebut dengan “symbiote” tersebut yang menyebabkan kondisi tubuhnya secara perlahan mulai berubah. Eddie Brock mulai merasakan bahwa dirinya memiliki sebuah kekuatan aneh dan suara-suara asing yang berbicara di kepalanya dan tidak dapat ia kendalikan.

Harus diakui, Venom berjalan dalam ritme pengisahan yang cukup hambar dalam paruh awal penceritaannya. Selain komposisi cerita yang mengenalkan para karakter, kisah dan masalah hidup mereka, hingga konflik yang nantinya akan dibangun lebih kuat pada paruh cerita selanjutnya, Venom sama sekali tidak menawarkan sebuah pengelolaan kisah yang baru maupun mampu disajikan dengan sajian kisah yang lebih mengikat. Beruntung, di momen ketika karakter Eddie Brock dihinggapi oleh sang “symbiote” yang kemudian menghasilkan lebih banyak kekacauan bagi kehidupan karakter tersebut, Venom mulai berani menampilkan daya tariknya. Tampilan kisah yang diselimuti banyak momen-momen komedi berhasil dieksekusi Fleischer dengan lancar. Momen-momen emas dari Venom memang kebanyakan muncul dari unsur komikal yang dihasilkan oleh interaksi antara karakter Eddie Brock dengan sosok kelam yang berada di dalam kepalanya. Sangat menghibur. Dan sebagai sebuah film yang bercerita tentang pahlawan super, Fleischer juga menghadirkan eksekusi yang cukup memuaskan pada banyak adegan-adegan aksi dalam jalan cerita film ini.

Eksekusi Fleischer sendiri tidak selalu berjalan dengan mulus. Sebagai sebuah film yang dirilis pada tahun 2018, Venom, entah disengaja atau tidak, seringkali terasa hadir bagaikan film-film bertemakan pahlawan super yang dirilis pada awal tahun 2000an. Bukan suatu hal yang buruk. Namun, di tengah gempuran film-film yang memiliki latar pengisahan serupa, Venom tampil dalam kemasan yang tidak terlalu istimewa. Dominannya unsur komedi dalam jalan penceritaan film juga kadang gagal untuk ditaklukkan Fleischer dengan baik yang menghasilkan ritme pengisahan yang berantakan pada beberapa bagiannya. Kelemahan-kelemahan tersebut tentu saja tidak mendorong Venom untuk kemudian menjadi sebuah presentasi yang buruk. Masih cukup layak untuk disaksikan – khususnya dengan performa Hardy yang begitu mengikat – namun, untuk sebuah film yang menampilkan karakter komik yang cukup ikonik, Venom harus diakui gagal untuk tampil istimewa dan cenderung terasa mudah untuk dilupakan begitu saja.

Hardy memang menjadi kunci utama dari kesuksesan penceritaan film. Penampilannya – baik sebagai sosok Eddie Brock yang angkuh namun terasa begitu rapuh dan mudah untuk disukai ataupun sebagai sosok Venom yang cukup “mengerikan” – begitu kuat dan mendorong penuh kualitas keseluruhan film ini. Penampilan Hardy juga didukung dengan solid oleh para pemeran pendukung lainnya. Williams mampu menjadikan karakter Anne Weying menjadi lebih dari sekedar karakter pendamping belaka. Dengan porsi penceritaan yang kuat, Williams mampu mencuri perhatian ketika karakternya tampil di dalam jalan penceritaan. Hal yang sama juga dapat dirasakan dalam penampilan Ahmed. Meskipun karakter antagonis yang ia perankan terasa tidak terlalu matang dalam pengembangannya namun Ahmed sukses menjadikan karakter tersebut tetap tampil sebagai sosok karakter yang layak menjadi lawan yang setara bagi sang karakter utama film.

Rating :

Share |


Review Terkait :

Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.