Review

Info
Studio : Starvision/CJ Entertainment
Genre : Comedy, Drama, Romance
Director : Guntur Soeharjanto
Producer : Chand Parwez Servia, Fiaz Servia
Starring : Morgan Oey, Mikha Tambayong, Deva Mahenra, Anggika Bolsterli, Millane Fernandez

Sabtu, 22 September 2018 - 00:07:08 WIB
Flick Review : Belok Kanan Barcelona
Review oleh : Amir Syarif Siregar (@Sir_AmirSyarif) - Dibaca: 817 kali


Diadaptasi dari novel berjudul Travelers’ Tale – Belok Kanan: Barcelona! yang ditulis oleh Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat, dan Ninit Yunita – dengan Mulya bertugas untuk menggarap naskah cerita film ini, Belok Kanan Barcelona berkisah mengenai persahabatan antara Francis (Morgan Oey), Retno (Mikha Tambayong), Ucup (Deva Mahenra), dan Farah (Anggika Bolsterli) yang telah terjalin semenjak masa SMA. Meski kini mereka telah tinggal di empat negara berbeda dalam menjalani karir mereka, Francis, Retno, Ucup, dan Farah masih menjaga hubungan dan komunikasi mereka dengan baik. Suatu hari, ketika keempatnya sedang berkomunikasi melalui perantaraan video conference, Francis mengumumkan bahwa dirinya akan segera menikahi kekasihnya, Inez (Millane Fernandez), dan menggelar pesta pernikahan mereka di Barcelona, Spanyol. Sebuah pernyataan yang tidak hanya terkesan tiba-tiba bagi teman-teman Francis namun juga memicu munculnya kembali perasaan dan memori dari masa lampau yang kemudian menghantui hubungan persahabatan keempatnya. 

Harus diakui, Belok Kanan Barcelona memulai pengisahannya dengan sangat, sangat mulus. Perkenalan yang dilakukan oleh jalan cerita film ini terhadap empat karakter utama serta jalinan persahabatan yang terjalin diantara mereka mampu disajikan dengan manis. Paruh kilas balik tentang masa sekolah dari karakter Francis, Retno, Ucup, dan Farah beserta pengenalan akan bumbu drama romansa yang mulai terbentuk dalam kisah persahabatan mereka – yang nantinya akan berkembang menjadi konflik utama bagi pengisahan Belok Kanan Barcelona – terbangun kuat berkat sokongan dari paduan elemen komedi film yang hadir begitu cemerlang serta chemistry antara Oey, Tambayong, Mahenra, dan Bolsterli yang hangat dan meyakinkan. Arahan Guntur Soeharjanto (Ayat-ayat Cinta 2, 2017) pada paruh penceritaan ini juga berjalan lugas dengan ritme yang tertata dengan rapi.

Keadaan, sayangnya, berubah seratus delapan puluh derajat ketika jalan cerita film ini memutuskan untuk meneruskan perjalanannya dengan latar belakang pengisahan masa sekarang. Kisah persahabatan dan romansa masa SMA yang tadinya hadir begitu mengikat kemudian tergantikan oleh konflik romansa yang berjalan monoton dan eksekusi yang terasa berantakan. Keputusan untuk mengembangkan plot tentang hubungan asmara antara dua karakter dengan keyakinan yang berbeda – yang seharusnya dapat diakhiri dan ditinggalkan pada paruh pengisahan masa SMA dari karakter-karaktr tersebut – justru memberikan warna negatif pada penceritaan Belok Kanan Barcelona ketika plot tersebut ditampilkan secara dangkal dan berujung pada pilihan ending yang terasa begitu dipaksakan. Sebuah guyonan bernuansa keagamaan yang muncul dalam satu adegan juga memberikan kesan tone deaf ketika ditempatkan secara salah dan diolah secara berlebihan.

Degradasi kualitas yang dialami departemen penceritaan film kemudian juga terjadi pada penampilan film ini. Mungkin karena dana produksi yang cukup terbatas, jalan cerita yang menuntut karakter untuk berada di berbagai lokasi yang terletak di luar negeri kemudian dieksekusi dengan proses efek visual. Sial, efek visual untuk “mentransfer” para karakter ke berbagai lokasi di luar negeri hadir dalam tampilan yang cukup menyedihkan. Terlepas dari berbagai kelemahan tersebut, Belok Kanan Barcelona sebenarnya masih tetap mampu tampil menghibur, khususnya ketika deretan dialog bernuansa komedi dalam film ini berhasil bekerja dengan baik.

Belok Kanan Barcelona beruntung memiliki talenta-talenta seperti Oey, Tambayong, Mahenra, dan Bolsterli yang mengisi departemen aktingnya. Dalam naik dan turunnya kualitas pengisahan film, keempat aktor tersebut tetap mampu tampil konsisten dalam menghidupkan karakter yang mereka perankan. Mahenra dan Bolsterli, khususnya, layak diberikan kredit lebih atas kemampuan keduanya untuk tampil komikal namun tidak pernah terasa berlebihan – dan bahkan seringkali sukses mencuri perhatian. Barisan pemeran pendukung film yang banyak diisi oleh para komika juga cukup solid – jika penonton dapat mengacuhkan penampilan Atta Halilintar dengan guyonan buruknya. Cukup disayangkan memang potensi Belok Kanan Barcelona yang awalnya terasa kuat kemudian berakhir menjadi presentasi dengan kesan yang buruk.

Rating :

Share |


Review Terkait :

Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.