Review

Info
Studio : GDH 559/Jorkwang Films
Genre : Comedy, Drama, Romance
Director : Witthaya Thongyooyong
Producer : Vanridee Pongsittisak
Starring : Sunny Suwanmethanont, Urassaya Sperbund, Nichkhun Horvejkul, Anchuleeon Buagaew, Chanchalerm Manasap

Sabtu, 04 Agustus 2018 - 11:06:41 WIB
Flick Review : Brother of the Year
Review oleh : Amir Syarif Siregar (@Sir_AmirSyarif) - Dibaca: 394 kali


Menyusul kesuksesan Bad Genius (Nattawut Poonpiriya, 2017) – yang tidak hanya berhasil meraih pujian luas dari banyak kritikus film dunia namun juga menjadi film Thailand yang dirilis secara internasional tersukses sepanjang masa – rumah produksi GDH 559 merilis film terbarunya yang berjudul Brother of the Year. Diarahkan oleh Witthaya Thongyooyong (The Little Comedian, 2010) dan dibintangi oleh Sunny Suwanmethanont, Urassaya Sperbund, dan Nichkhun Horvejkul – yang sebelumnya mungkin lebih dikenal sebagai anggota boyband asal Korea Selatan, 2PM, Brother of the Year berkisah mengenai hubungan pasangan kakak beradik yang kemudian merenggang setelah sang adik menjalin hubungan romansa dengan rekan kerjanya. Terdengar sederhana namun GDH 559, sekali lagi, mampu mengemasnya menjadi sebuah sajian cerita yang drama komedi yang unik dan cukup menyenangkan untuk diikuti. 

Dengan naskah cerita yang ditulis oleh Thongyooyong bersama dengan Nontra Kumwong (A Gift, 2016), Tossaphon Riantong (The Swimmers, 2014), dan Adisorn Trisirikasem (Bangkok Traffic (Love) Story, 2009), Brother of the Year memulai kisahnya dengan memperkenalkan dua karakter utamanya, pasangan kakak beradik, Chut (Suwanmethanont) dan Jane (Sperbund), yang memiliki karakteristik saling bertolak belakang satu dengan yang lain. Jika Jane adalah sosok yang teratur dan perfeksionis maka Chut adalah seseorang yang ingin melakukan segala hal sesuai dengan kehendak hatinya. Karenanya, ketika Jane memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke Jepang, Chut merasa begitu bahagia karena merasa tidak ada lagi sosok yang mengatur dan merecoki kehidupannya. Kebahagiaan itu, sayangnya, tidak berlangsung lama. Empat tahun setelah meninggalkan Bangkok, Jane kembali hadir dalam kehidupan Chut. Pertikaian antar saudara tidak terelakkan terus terjadi antara keduanya. Namun, ketika Jane memulai hubungan romansa dengan rekan kerjanya, Moji (Horvejkul), pertikaian antara Jane dan Chut berlangsung semakin intens akibat ketidaksetujuan Chut atas hubungan romansa adiknya tersebut.

Brother of the Year sebenarnya dimulai dengan sangat meyakinkan. Mengandalkan elemen komedi – yang mayoritas dihadirkan secara slapstick – guna menggambarkan hubungan dari kedua karakter utama film, Thongyooyong mampu menjadikan Brother of the Year sebagai sebuah sajian yang begitu menghibur. Film ini baru mulai berkisah dengan nada yang lebih serius – dan menemui barisan hambatan-hambatan pengisahannya – ketika karakter Moji mulai merasuk dalam cerita dan membentuk aliran kisah drama romansa dalam struktur penceritaan Brother of the Year. Thongyooyong sebenarnya tetap mampu memanfaatkan kehadiran elemen drama romansa tersebut untuk menjadikan intrik antar saudara yang terjadi antara karakter Chut dan Jane menjadi lebih kuat (dan emosional) dalam beberapa adegan. Sayangnya, ketika fokus pengisahan kemudian benar-benar diserahkan pada elemen romansa film ini, Brother of the Year secara perlahan kehilangan sandarannya dan terjatuh menjadi sebuah presentasi yang hambar.

Permasalahan terbesar dari elemen romansa Brother of the Year adalah karakterisasi dari Moji yang terlihat begitu pucat dan jauh dari kesan menarik jika dibandingkan dengan karakterisasi Chut dan Jane. Akhirnya, daripada mampu membuat penonton untuk mendukung keberadaan kisah romansa antara Moji dan Jane, penonton sepertinya akan lebih memilih agar film ini lebih mengeksplorasi kembali hubungan dan intrik persaudaraan antara karakter Chut dan Jane. Hal yang sama juga terjadi pada kisah romansa yang coba dibangun antara karakter Chut dengan karakter Dear (Manasaporn Chanchalerm) yang sayangnya tidak pernah mampu tergarap dengan baik. Dengan durasi pengisahan yang mencapai 125 menit, Brother of the Year juga tidak dapat menghindar dari tata penceritaan yang cenderung terlalu bertele-tele. Banyak bagian film yang sebenarnya tidak begitu esensial dan dapat dibuang guna mengurangi tingkat kejenuhan sekaligus menjadikan penceritaan film menjadi lebih efektif.

Terlepas dari permasalahan pada pengisahannya, Brother of the Year harus diakui tetap selalu dapat tampil menarik berkat penampilan Suwanmethanont dan Sperbund. Chemistry keduanya sebagai pasangan kakak beradik tampil begitu alami, meyakinkan, dan mengikat untuk selalu diikuti kisahnya. Baik Suwanmethanont maupun Sperbund juga menghadirkan penampilan yang apik guna menghidupkan karakter masing-masing. Kualitas penampilan yang membuat kedua karakter mereka menjadi begitu menghipnotis. Horvejkul dan Chanchalerm sendiri sebenarnya tidak tampil dalam kapasitas akting yang buruk. Naskah cerita film inilah yang menjadikan karakter mereka begitu hambar dan tidak dapat dieksplorasi secara lebih mendalam.

Rating :

Share |


Review Terkait :

Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.