Review

Info
Studio : GDH 559
Genre : Comedy, Romance
Director : Chayanop Boonprakob
Producer : Jira Maligool, Vanridee Pongsittisak
Starring : Baifern Pimchanok, Nine Naphat, Jason Young, Benjamin Joseph Varney, Sukhapat Lohwacharin

Senin, 25 Maret 2019 - 18:00:53 WIB
Flick Review : Friend Zone
Review oleh : Taufiqur Rizal (@TarizSolis) - Dibaca: 392 kali


Dalam Friend Zone, penonton diperkenalkan kepada dua teman baik yang telah menjalin ikatan persahabatan sedari duduk di bangku SMA, Gink (Baifern Pimchanok) dan Palm (Nine Naphat). Tak seperti Gink yang sebatas menganggap Palm sebagai sahabat yang siap menemani dalam suka maupun duka, Palm justru berharap lebih. Dia ingin menghabiskan sisa hidupnya bersama dengan Gink sebagai istrinya bukan sebagai temannya. Berhubung Gink tak ingin merusak tali pertemanan diantara mereka dan Palm pun acapkali ragu-ragu untuk mengutarakan perasaannya, maka tentu saja hubungan keduanya pun tak pernah melangkah ke arah yang lebih serius. Mereka hanyalah sahabat, that’s it. Pun demikian, Palm masih memiliki keyakinan bahwa gayung akan bersambut suatu saat nanti sekalipun Gink tak kunjung merespon kode-kode dari sahabatnya selama satu dekade. Saat mereka akhirnya memilih jalan hidup masing-masing, Palm tetap dijadikan teman pelipur lara oleh Gink yang mempunyai trust issue terhadap pasangannya, Ted (Jason Young), yang merupakan seorang produser musik. Tidak jarang Gink tiba-tiba menghubungi Palm untuk menemaninya akibat rasa insecure yang mendadak menghujamnya. Sebagai sahabat yang baik, Palm tentu selalu siap sedia kapanpun dia dibutuhkan walau terkadang posisi Gink berada nun jauh di negara lain. Meski keduanya sudah disibukkan dengan pekerjaan dan pasangan masing-masing, Palm dan Gink tetap sulit untuk dipisahkan. Dimana ada Gink yang sedang dirundung masalah, maka disitu ada pula Palm yang menenangkannya. Palm yang tetap berharap ada secercah harapan bagi dia dan sang sahabat untuk mengucapkan janji suci bersama.

Sejujurnya, tak ada pembaharuan dalam guliran pengisahan yang dikedepankan oleh Friend Zone. Cerita mengenai dua teman baik yang menyimpan rasa tapi tak sanggup untuk mengungkapkan karena khawatir merusak ikatan persahabatan, telah berulang kali dipergunakan sebagai plot utama untuk film percintaan. Tak perlu jauh-jauh melempar ingatan ke sinema dunia, perfilman Indonesia pun baru saja menghadirkannya melalui Teman Tapi Menikah (2018) yang manis sekali dan Antologi Rasa (2019) yang yaaa… sudahlah tak usah kita bahas demi kebaikan bersama. Alhasil, mudah sekali untuk melabeli Friend Zone dengan sebutan “klise”, “membosankan”, “film yang malas”, serta sederet kata sifat yang memiliki konotasi negatif seperti kerap dilakukan oleh sebagian pihak kepada film percintaan dengan narasi familiar. Padahal, apa yang salah dengan familiar? Friend Zone yang digarap oleh Chayanop Boonprakob (Suckseed, May Who) pun membuktikan bahwa sebuah film tidak harus memiliki narasi beserta penggarapan serba “diluar kotak” untuk bisa disebut sebagai sajian yang mengesankan. Bukankah seringkali kita ke bioskop hanya ingin mencari obat pelepas penat yang ditimbulkan oleh realita bercita rasa pahit? Bukankah terkadang kita membutuhkan suatu tontonan yang dapat mewakili isi hati dan bisa sepenuhnya dipahami karena ada kedekatan representasi? Bagi saya, Friend Zone memenuhi dua pengharapan tersebut lantaran: 1) ini adalah film yang menghibur, dan 2) jalinan penceritaan film ini yang sederhana kemungkinan besar pernah dialami oleh sejumlah penonton utamanya bagi mereka yang berkawan akrab dengan lawan jenis.

Ya, satu kelebihan yang dimiliki oleh Friend Zone adalah materi penceritaannya yang tergolong relatable. Mungkin kamu pernah menyaksikan “zona pertemanan” ini diberlakukan kepada seseorang yang kamu kenal, atau malah mungkin kamu pernah terjebak di dalamnya secara langsung. Saya pribadi tidak pernah berada dalam posisi Palm, tapi saya cukup sering mendengar cerita bernada galau dari beberapa teman tentang keberadaan zona berbahaya tersebut. Sebuah modal yang terbilang cukup bagi saya untuk bisa memahami perasaan kedua karakter utamanya yang tak menentu. Terlebih lagi, Chayanop Boonprakob turut menghadirkan karakterisasi mumpuni untuk Gink dan Palm sehingga pilihan atas tindakan-tindakannya dapat dimengerti. Memang betul bahwa latar belakang keduanya kurang digali mendalam – khususnya Palm yang tidak pernah diketahui seperti apa keluarganya – tapi si pembuat film mencoba mengompensasinya dari motivasi kedua karakter yang terjabarkan secara jelas. Sikap ragu-ragu Palm dilandasi oleh keengganannya mempertaruhkan persahabatan yang penuh kenangan indah apalagi sang sahabat pun sudah terang-terangan menyatakan “menjadi sahabat saja sudah cukup, kan?”, sementara penolakan Gink dilandasi oleh trauma yang disebabkan oleh perselingkuhan sang ayah dan mantan kekasihnya. Dia tidak benar-benar bisa mempercayai cinta maupun pernikahan sehingga Gink seringkali mempunyai kekhawatiran hubungan asmaranya tidak akan berlangsung lama. Ditambah fakta bahwa dia memandang Palm sebagai playboy, maka menjalin tali asmara dengan sang sahabat tidak terlihat seperti pilihan bijak karena kemungkinan keduanya untuk berpisah tampak begitu jelas.

Disodori pergulatan batin semacam ini, saya pun ikut dibuat bimbang. Seolah-olah saya diposisikan sebagai kawan baik mereka berdua yang tiba-tiba diberondong dengan pertanyaan, “jadi apa yang seharusnya kita lakukan?.” Karakterisasi kedua protagonis ditambah chemistry sangat bagus yang dibentuk oleh Baifern Pimchanok dengan Nine Naphat membuat dua pilihan sama-sama terdengar masuk akal. Saya berharap mereka memberanikan diri untuk jadian, tapi saya pun tak keberatan jika mereka kemudian memutuskan untuk tetap bersahabat. Mengingat diri ini telah sepenuhnya bersimpati kepada Gink dan Palm (satu hal yang wajib bisa dilakukan oleh film percintaan!), saya tentu hanya menginginkan yang terbaik untuk mereka walau di lubuk hati terdalam berteriak “jadian dong!”. Sebuah teriakan yang tak terelakkan karena mau bagaimana lagi, rangkaian momen yang disodorkan di sepanjang durasi telah menggiring opini penonton untuk menyatakan “kedua insan ini harus bersatu”. Rangkaian momen yang sejatinya klasik tapi mampu dimunculkan dengan luar biasa manis berkat sensitivitas si pembuat film dan chemistry dua pemain seperti adegan makan malam di gedung pencakar langit, menggubah ulang lirik lagu di pantai, sampai mencari cincin di bawah kolong meja. Disodorkan dengan beragam tone meliputi konyol yang menciptakan gelak tawa, lembut yang memantik senyum bahagia, serta haru yang mengundang air mata, Friend Zone jelas memenuhi segala pengharapan saya untuk film percintaan. Ditambah dengan fakta bahwa film ini mempunyai babak ketiga yang dirangkai dengan sangat cerdik (well, salah satu kelebihan film Thailand memang terletak pada cara mereka mengemas proses puncak menuju konklusi), pada akhirnya diri ini pun sulit untuk menolak pesona yang ditawarkan oleh Friend Zone. Bagus!

Rating :

Share |


Review Terkait :

Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.