News


Senin, 31 Agustus 2015 - 15:53:14 WIB
Gangster
Diposting oleh : Taufiqur Rizal (@TarizSolis) - Dibaca: 1535 kali

Para penikmat film Indonesia tentu sama-sama tahu bahwa Fajar Nugros telah terbiasa berkecimpung di ranah komedi dan drama romantis – setidaknya dalam filmografinya didominasi genre ini. Maka ketika dia menjajal keluar dari zona nyamannya dengan menggarap film beraliran laga, respon pertama kali meluncur dari mulut adalah, “heh, Fajar Nugros dan film action?.” Sepintas terdengar sangat meremehkan, memang. Bukan apa-apa, genre yang memperkenalkan kita kepada Barry Prima atau George Rudy ini bukanlah tipe mudah dieksekusi... setidaknya di sinema Indonesia. Dalam kurun satu dasawarsa terakhir bisa dikata hanya segelintir film action produksi lokal berkualitas diatas rata-rata dengan dwilogi The Raid telah menetapkan standar begitu tinggi sehingga kemunculan film teranyar Fajar Nugros, Gangster, produksi Starvision ini sedikit banyak diiringi sikap skeptis bertingkat. Satu-satunya yang mendesak minat saya untuk tetap menyimak Gangster di layar perak adalah melihat Dian Sastrowardoyo mencak-mencak dalam three-way fight bersama Kelly Tandiono dan Yayan Ruhian. 
 
Sepeninggal sang ayah angkat, Jamroni (Hamish Daud), membulatkan tekad meninggalkan kampung halamannya untuk mengembara ke Jakarta demi menemukan sahabat masa kecilnya, Sari (Eriska Rein). Setibanya di Jakarta, Jamroni memperoleh sambutan tidak ramah dari sekelompok preman yang berniat menghajarnya. Dalam upayanya menyelamatkan diri, Jamroni berjumpa dengan Retta (Nina Kozok) yang sedang dalam pelarian dari kejaran orang-orang suruhan sang ayah, Hastomo (Agus Kuncoro). Melihat kemampuan bertarung Jamroni yang mumpuni – mampu mengalahkan sejumlah bodyguard bertubuh kekar – Retta pun meminta bantuan kepada Jamroni untuk membantunya keluar dari permasalahan perjodohan yang telah dirancang Hastomo bersama rekan bisnisnya, Amsar (Dwi Sasono), dengan cara berpura-pura sebagai kekasihnya. Memperoleh informasi bahwa Retta telah memiliki kekasih yang bukan seharusnya, Amsar pun kebakaran jenggot. Dia lantas menitahkan para bawahannya untuk memburu Jamroni dan kemudian, mengibarkan bendera perang kepada Hastomo. 

“Film itu mengenai kerjasama tim. Satu kesalahan dapat mengacaukan segalanya dan satu kehebatan dapat membantu semuanya,” demikian ujar seorang rekan pembuat film kepada saya sekali waktu. Dan, Gangster merupakan contoh nyata dari pernyataan tersebut. Ditinjau dari sisi penceritaan yang dirakit oleh Jujur Prananto (Ada Apa Dengan Cinta?),Gangster cenderung lemah nyaris tidak memiliki daya. Cukup sulit menemukan keistimewaan dibalik guliran kisah yang sudah mengalami bongkar pasang berulang kali di film bergenre serupa ini. Disamping cukup usang serta mudah ditebak muaranya, naskah juga kurang dalam mengeksplor interaksi antar tokohnya dan cukup sering memunculkan momen yang kalau kata orang Jawa serba ujug-ujug sehingga sedikit banyak berpengaruh terhadap kadar kenikmatan mengikuti alunan kisah utamanya di menit-menit menjelang tutup film. Tapi, lalu kita ingat bahwa inti utama dari suatu film laga tidak harus bertumpu pada bangunan kisahnya yang cerdas, melainkan lebih kepada seru-seruan. Tentang bagaimana emosi penonton dibuat bergejolak oleh serangkaian adegan baku hantam maupun baku tembak meriah. Untuk urusan satu ini, Gangster boleh dibilang cukup berhasil. 

Kerjasama tim pun menunjukkan hasilnya disini. Kelemahan skrip sanggup ditutupi oleh kinerja menawan dari departemen lain. Koreografi tarung ciptaan Yayan Ruhian memunculkan cukup banyak jurus-jurus mengesankan dengan adegan terbaik terletak padathree-way fight yang melibatkan para perempuan (salah satunya, Dian Sastrowardoyo). Meski ada kalanya kesan terlalu tertata mencuat, namun tidak memberi dampak besar kepada sisi keasyikkan laganya. Selain itu, Gangster juga dikaruniai performa menakjubkan dari duo maut Dwi Sasono-Agus Kuncoro. Ya, kapabilitas keduanya dalam dunia seni peran memang sudah tidak perlu dipertanyakan, namun sungguh, inilah pertunjukkan akting terbaik dari Dwi Sasono! Pergantian mood secara cepat sosok Amsar – dari tenang, bercanda, marah besar, takut, lalu kembali tenang – diterjemahkannya brilian tanpa pernah mendistraksi laju film. Dia mampu membuat penonton tertawa tergelak sekaligus cemas gemas di saat bersamaan. Fajar Nugros memang telah mencampurkan elemen laga dan komedi di Gangster dengan lumayan pas – membuktikan bahwa kekhawatiran saya tidak terbukti – tapi tak bisa dipungkiri sumbangan permainan apik para bintangnya lah yang membuat film memiliki cita rasa greget. Menjadikan Gangster memiliki sinonim dengan kata fun dan enjoyable.


Share |


Berita Terkait :
Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.