Memasang Robert Downey Jr. menjadi seorang detektif handal nan legendaris, Sherlock Holmes ketika tak sampai 3 bulan kemudian ia akan menjadi seorang Tony Stark dan kembali melakoni perannya sebagai superhero di Iron Man 2 adalah sebuah perjudian besar dari Guy Ritchie, sutradara yang terkenal dengan film-filmnya yang “brutal” namun elegan seperti Snatch, Lock Stock & Two Smoking Barrels. Butuh nyali yang besar mengingat mayoritas orang mengenal sosok Robert Downey Jr. sebagai “Tony Stark” – seorang milyader dan ilmuwan handal yang pada akhirnya menciptakan sosok superhero Iron Man. Apakah perjudian Guy Ritchie berjalan mulus?
Semua terjawab pada film yang didasari oleh tokoh rekaan karya Sir Conan Doyle yang diciptakan pada akhir abad ke-19 itu. Plot cerita film ini adalah ketika Sherlock Holmes dan rekan abadinya, Dr. John Watson (yang diperankan secara apik oleh Jude Law), berusaha menghentikan konspirasi besar untuk menghancurkan Inggris. Adalah Lord Blackwood (Mark Strong), yang lolos dari hukuman mati dan hidup kembali untuk menguasai Inggris dan menakuti semua orang dengan ilmu sihir yang dipunyai-nya. Disinilah kemampuan Sherlock Holmes diuji, dengan ilmu analisa yang luar biasa, ia dan Dr. Watson menyelidiki apakah benar Lord Blackwood mempunyai ilmu sihir atau hanyalah tipuan belaka. Film yang berdurasi 128 menit ini membawa penonton menelusuri London di tahun 1891 dengan segala kasus yang harus dipecahkan Holmes dan Watson dengan segala kesulitan yang menghadang mereka.

Akting menawan ditampilkan oleh Jude Law, perannya sebagai John Watson, seorang dokter yang juga menjadi partner abadi dari Sherlock Homes dilakoninya sangat baik, apalagi ditambah dengan kumis dan aksen Inggris yang kental membuatnya membawa aura John Watson dengan tepat, sesuai dengan apa yang ditulis oleh Sir Conan Doyle di novel dan ceritanya. Jude Law berhasil bangkit dari tidur panjangnya selama 2 tahun di dunia akting, saya yakin perannya di Sherlock Holmes ini akan membuat namanya kembali diperhitungkan di jajaran aktor papan atas Hollywood. Robert Downey Jr. memang mampu melakonkan seorang Sherlock Holmes dengan mulus sampai akhir film, namun jiwa detektif legendaris yang digambarkan di novel atau cerita dari Sir Conan Doyle belum terlalu melekat, terkadang dalam beberapa scene kita melihat seorang Tony Stark yang terjebak di abad ke-19. Namun chemistry yang diperlihatkan antara Robert Downey Jr. dan Jude Law sepanjang film sangatlah baik, mereka mampu melakonkan sepasang sahabat yang juga rekan kerja dalam kasus-kasus yang dihadapinya, banyak guyonan yang membuat kita akan terbahak-bahak di sela-sela film.
Sebaliknya Rachel McAdams yang memerankan seorang penjahat wanita yang juga memendam perasaan dengan Holmes, Irene Adler tampak kurang maksimal dalam perannya, dalam film ini ia hanya terlihat sebagai pemanis belaka yang harusnya bisa lebih digali karakternya. Mark Strong yang berperan sebagai Lock Blackwood berhasil menjadi seorang sosok antagonis yang ingin menghancurkan London, walau tidak terlalu menonjol layaknya peran Hans Landa (Christopher Waltz) di Inglourious Basterds.

Dari sisi penyutradaraan, Guy Ritchie berhasil membawa ciri khas film-filmnya yang terdahulu ke dalam sebuah film tentang detektif legendaris yang berdasarkan cerita aslinya hanya seorang detektif yang hanya melakukan penelitian, analisa yang mendalam, dan intuisi dalam memecahkan kasusnya. Sherlock Holmes versi Guy Ritchie adalah seorang detektif yang ahli bela diri, bahkan Sherlock diperlihatkan sering mengikuti pertarungan tinju bebas di sebuah bar underground layaknya film Fight Club karya David Fincher. Gaya penuturan flashback slow motion adalah nilai plus di film ini, Ritchie mampu menerjemahkan apa yang ada di otak seorang Sherlock Holmes melalui scene-scene flashback slow motion yang dibuat secara beruntutan, sehingga penonton bisa mengetahui persis analisa akurat Holmes tanpa ia menjelaskannya secara rinci. Brilian!
Kelemahan film ini adalah durasi film yang dirasa terlalu lama, harusnya banyak scene-scene di awal dan pertengahan film yang seharusnya dipotong agar jalannya cerita menjadi lebih efektif, selain itu akting dari para karakter-karakter dalam film ini harusnya bisa lebih dimaksimalkan dan dikembangkan lagi, disini tampak hanya Dr. John Watson, yang diperankan oleh Jude Law yang sangat sukses mencuri perhatian penonton dalam setiap scene-nya. Semoga pada sekuel-nya nanti kelemahan-kelemahan ini akan tertutupi dengan baik.

Diluar semua kelemahan itu, kita akan tetap terhibur menyaksikan petualangan Sherlock Holmes dan Dr. John Watson melakukan analisa, penelitian dan memecahkan teka-teki dalam kasus Lock Blackwood hingga tuntas. Ending film yang dipaparkan juga membuat kita sadar bahwa seri Sherlock Holmes ini akan terus berlanjut dengan kasus-kasus yang baru dan lebih menantang. Ketika satu kasus berhasil dipecahkan, datang kasus lainnya untuk kembali dipecahkan. Get ready to join the adventure with Sherlock Holmes. (Titis Sapto Raharjo)
Rating: 3,5 dari 5
Sherlock Holmes akan diputar di jaringan bioskop Indonesia mulai 30 Desember 2009.