News Content

JIFFEST 2009: Review Three Monkeys
Posted by: Rangga Adithia
  on Dec 11, 2009

Three Monkeys, bercerita tentang keluarga kecil yang sepertinya punya masalah dengan komunikasi diantara mereka. Sang ayah, Eyup harus rela masuk penjara selama 9 bulan. Namun alasan dia berada dibalik jeruji bukan karena dia bersalah melalukan kejahatan. Bosnya lah yang sebenarnya melakukan kejahatan, dia menabrak orang ketika sedang berkendara di tengah malam. Karena tidak mau reputasinya berantakan karena persoalan ini, dia menyoba menawarkan perjanjian dengan Eyup. Servet, sang bos berjanji akan memberikan uang setiap bulannya untuk keluarganya, asal Eyup mau menggantikannya masuk penjara. Si bos yang punya karir di politik itu pun terbebas dari penjara dan membiarkan Eyup membusuk selama berbulan-bulan di penjara. “Uang perjanjian” pun terus mengalir seperti apa yang dijanjikan oleh Servet. Tetapi lambat laun Servet mulai memanfaatkan keadaan. Selagi Eyup absen dari kehidupan Hacer istrinya, Sang bos pun melancarkan aksinya, mencuri-curi kesempatan dalam kesempitan.

Photobucket

Judul film ini ternyata bukan hanya hiasan yang ditaruh begitu saja, tanpa arti apa-apa. “Three Monkeys” benar-benar sebuah kiasan atas apa yang terjadi pada 3 karakter utama di film ini. Sebuah keluarga yang hanya bisa diam, tak berkata, tak peduli, tak ingin tahu dengan masalah berat yang sebenarnya sedang menimpa mereka. Eyup, Hacer, dan Ismail hanya bisa bertanya-tanya dan tak pernah mencoba ingin menyelesaikan masalah-masalah yang ada. Mereka pun hanya bisa memendam jawaban-jawaban itu dalam hati tanpa menyuarakan apa yang sebenarnya ingin mereka katakan, mereka merapatkan mulut masing-masing agar tetap tertutup. Mereka bersikap seolah tak terjadi apa-apa, bertingkah layaknya orang buta, tak bisa melihat kalau semua masalah-masalah itu ada dihadapannya. Mereka juga bersikap sebagai pendengar yang buruk, lebih tepatnya tuli, tak mau mendengarkan apa-apa termasuk hati nurani yang berbisik. Komunikasi jelas sudah menjauh dari keluarga ini, sekarang yang ada hanya kebisuan, tak lagi mendengar, berkata, dan melihat kalau mereka masih sebuah keluarga.

Nuri Bilge Ceylan dengan bijak menggiring kita untuk mempelajari apa yang sebenarnya terjadi dengan film ini. karena jujur, di awal film kita akan dibuat bertanya-tanya oleh karakter-karakter yang tiba-tiba muncul dan pergi, tanpa ada penjelasan siapa dia dan ada hubungan apa dengan karakter lain. Namun bersamaan dengan bergulirnya film dari menit ke menitnya, Ceylan tak lupa memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang berhasil dia ciptakan sebelumnya. Walau tidak langsung menjawab dengan begitu saja secara gamblang, karena Ceylan menjawab setiap pertanyaan dalam film ini dengan tidak tersusun. Artinya kebingungan kita akan sebuah adegan akan terluruskan entah itu ditengah film atau di akhir film. Tapi yang pasti, semua pertanyaan akan berakhir di jawab ketika film berakhir. Mengarahkan film ini secara lurus, pastilah akan merusak mood yang ada, karena walau terkesan berbelit-belit dalam bercerita, Ceylan bisa menyusunnya dengan baik. Dengan brilian dia bisa menyampaikan satu-persatu “tumpukan” ceritanya melalui adegan demi adegannya dan menyatukannya dengan rapih, menjadikannya film yang sempurna dalam menuturkan kisahnya.

Sebagai seorang sutradara yang mengawali karirnya di bidang fotography, Ceylan tahu betul bagaimana membuat adegan demi adegan di film ini terlihat begitu indah. Ceylan tak hanya mengarahkan filmnya untuk utuh sebagai suatu kesatuan cerita, namun dia melukiskan setiap bagian dari filmnya dengan brilian. Ceylan menambahkan warna-warna yang pas dengan cerita yang coba dia bangun dari awal, sisi kelam itu pun makin terasa tak hanya dari cerita tapi dari apa yang divisualisasikan lewat gambar. Sudut-sudut gambar pun diolah sedemikian rupa, menangkap setiap ketakutan, kebingungan, dan kemarahan setiap karakter dengan begitu baik. Jarak pengambilan gambar yang kadang begitu dekat dengan setiap karakternya, berhasil mendekatkan kita juga dengan mereka, menyampaikan apa yang mereka rasakan kepada penontonnya dengan fantastis. Kita akan merasakan kalau mereka takut dan perasaan lainnya dengan lebih jelas, ketika kamera mendekat dengan salah satu karakter, menangkap raut muka dengan begitu detil, keringat yang membasahi, urat yang meregang, nafas yang menderu, menghasilkan gambar yang begitu spektakuler. Ceylan juga tidak lupa memasukkan Turki sebagai latar belakang film ini dengan begitu artistik, mengambil sudut lain kota, memperlihatkan kota begitu gelap, kelam, cuaca mendung namun masih terasa keindahannya.

Three Monkeys, telah berhasil memperlihatkan sisi lain dari sebuah kehidupan keluarga dengan begitu baik dengan cerita dan gambar yang begitu mendukung. Ceylan pantas untuk mendapatkan predikat “Best-Director” di Festival Film Cannes tahun 2008 silam, karena dengan baik mengemas sebuah ironi ke dalam paket yang dibungkus dengan indah. Film ini Jujur dalam bercerita, lembut dalam menyampaikan, dan dengan indah dapat memvisualkan keseluruhan kisahnya. Para pemainnya pun berakting dengan sangat baik, begitu menyatu dengan cerita, memerankan setiap karakternya tidak berlebihan namun pas dengan setiap adegan yang ada. Film ini sudah menghibur lewat caranya sendiri, dikatakan jelek karena begitu “depressing”, tentu saja tidak. Karena Ceylan justru meracik level terendah perasaan manusia itu dengan keindahan dan meramunya dengan nilai-nilai moral yang dalam. Mengetuk setiap siapa saja yang menonton, dan mengajaknya untuk “bermain” sejenak ke dalam filmnya, it’s totally depressing but fun!! Enjoy!!

| More
blog comments powered by Disqus