Feature


Rabu, 07 November 2018 - 16:06:43 WIB
Aktor Legendaris Jepang Koji Yakusho Ingin Main Film Bareng Christine Hakim
Diposting oleh : Taufiqur Rizal (@TarizSolis) - Dibaca: 203 kali

Sebuah wawancara eksklusif oleh Daniel Irawan (@danieldokter) yang dilangsungkan di Tokyo International Film Festival.

Seperti biasanya, di segmen Japan Now – segmen untuk memperkenalkan wajah sinema Jepang dari masa ke masa, Tokyo International Film Festival (TIFF) selalu memilih aktor legendaris dalam sinema Jepang untuk menjadi fokus spesial dengan penayangan retrospektif film-film terbaik mereka. Tahun ini, sorotan Actor in Focus di segmen Japan Now menjadi milik aktor Koji Yakusho, aktor kelahiran 1956 yang diakui hingga ke ranah internasional lewat film-film seperti Memoirs of a Geisha dan Babel, tanpa lupa menyebut salah satu hit terbesarnya di tahun 1996, Shall We Dance? yang menarik perhatian Hollywood untuk di-remake dengan bintang Richard Gere dan Jennifer Lopez pada tahun 2004.

Tahun ini, di TIFF, Koji Yakusho merayakan 40 tahun karirnya sebagai aktor dengan showcase khusus yang menayangkan 5 film terbaiknya; Shall We Dance? (1996, Masayuki Suo), The Eel (1997, Shohei Imamura), Cure (1997, Kiyoshi Kurosawa), The Woodsman and the Rain (2011, Shuichi Okita) dan film hit terbarunya, The Blood of Wolves (2018, Kazuya Shiraishi). Lewat interview eksklusif yang berlangsung cukup singkat namun tak menahan Yakusho untuk menuangkan visinya berkarir selama 40 tahun, ia juga membahas sedikit pengenalannya terhadap sinema Indonesia. Berikut adalah kutipan wawancaranya:

Sebagai salah satu aktor dengan status legendaris di sinema Jepang, juga diakui hingga ke dunia internasional, Anda sudah bermain dalam lebih dari 70 film layar lebar. Bagaimana perasaan Anda bisa melangkah hingga sejauh ini dan mendapat showcase khusus untuk merayakannya sebagai Actor in Focus di TIFF?

Adalah kesempatan yang sangat berarti bagi saya bisa merayakan pencapaian itu dengan 5 film pilihan yang ditayangkan di TIFF. Saya kembali mengenang setiap film, semua ingatan yang masih saya miliki terhadap film-film tersebut, dan kembali merasakan respons dari audiens dengan berbicara langsung dengan mereka. Bagi saya, bisa bertemu dengan penonton film-film saya dan berdiskusi langsung dengan mereka selalu menjadi kesempatan yang saya tunggu lewat setiap film yang saya kerjakan. Walaupun hanya 5 film, namun film-film ini memang sudah dipilih dengan ketat dalam programnya, dan semua sangat berarti bagi saya. 

Kami sangat menyukai Shall We Dance? versi Jepang dan baru saja mendapat kesempatan yang sudah ditunggu-tunggu sejak lama untuk bisa menyaksikannya di layar lebar. Selama 40 tahun berkarir memerankan berbagai macam karakter dari protagonis ke antagonis di berbagai genre, kalau boleh tahu, film-film apa saja yang memberi tantangan terbesar pada profesi Anda sebagai aktor?

Terima kasih (tertawa). Semua film yang saya kerjakan punya sisi spesial dalam memberikan tantangan dalam berakting, tapi salah satunya baru saja Anda sebutkan (tertawa). Shall We Dance? adalah film yang mengharuskan saya berlatih cukup lama untuk mempersiapkan peran saya. Masalahnya lagi, saya sungguh perlu waktu tak sebentar untuk mengatasi rasa malu-malu saya melakukan ballroom dancing, tapi untunglah pada akhirnya saya bisa benar-benar masuk dan merasakan semua motivasi dan perasaan yang dimiliki oleh karakter yang akan saya mainkan untuk bisa berani dan benar-benar berlatih berdansa dengan baik. Persis seperti karakter yang Anda lihat barusan.

Untuk menjaga karir akting Anda tetap bersinar sepanjang ini, apakah ada kondisi-kondisi tertentu sebagai persyaratan utama untuk menerima sebuah peran? Apakah skrip, sutradara, atau yang lainnya?

Bicara soal menerima peran, tentu biasanya saya melihat beberapa faktor seperti yang Anda sebutkan. Tapi tentunya ada faktor lain yang membuat saya bersedia menerima peran yang ditawarkan ke saya tanpa harus terikat hanya pada satu faktor. Ada kalanya, saya bahkan menerima peran dalam film yang belum memiliki skrip final, namun saya memang ingin bekerjasama dengan sutradaranya. Sementara dalam pertimbangan skrip, saya biasanya membaca dulu skripnya dan faktor penentunya adalah bila skrip itu bisa meyakinkan saya bahwa ini adalah film yang ingin saya lihat. Kira-kira seperti itu. 

Selama berkarir sebagai aktor, Anda sudah bekerjasama dengan banyak sutradara-sutradara ternama di sinema Jepang. Kiyoshi Kurosawa, Takashi Miike, Hirokazu Koreeda – diantaranya. Apakah ada sutradara yang Anda inginkan untuk bekerjasama namun belum kesampaian hingga sekarang?

Hmmm... ya, mungkin ada beberapa. Sebenarnya tak hanya sutradara, tapi juga aktor (tertawa). Saat ini saya bisa menyebutkan satu, yaitu aktor Tadanobu Asano, juga aktor kami yang bekerja hingga ke film-film internasional (Tadanobu Asano turut bermain dalam dua film Thor; The Dark World dan Ragnarok selain Battleship, 47 Ronin dan Silence). Saya sudah sangat lama mengenalnya sejak ia masih sangat muda, dan kami sudah berulang kali bicara betapa kami ingin tampil dan bekerjasama dalam satu film.

Bagaimana pandangan Anda terhadap industri film Jepang saat ini dan regenerasi sineas serta aktor-aktornya?

Begini. Dibandingkan 10 tahun lalu, dalam konteks bisnis, industri film Jepang sekarang bergerak sangat maju dan bukan hanya film-film live action, tapi juga animasi (anime) yang menjadi salah satu penanda budayanya. Semakin banyak film-film yang sukses di pasar domestik hingga internasional – membuat sinema Jepang semakin dikenal. Namun kita juga tidak boleh melupakan peranan dari film-film yang punya unsur-unsur dan esensi budaya klasik atau secara kental di ajang-ajang festival internasional. Ini menurut saya merupakan tantangan yang harus dipertahankan dalam industri film Jepang sekarang.

Tentang regenerasi sineas dan aktor-aktornya, saya merasakan adanya dinamika di kalangan sineas-sineas berikut aktor muda, bahwa mereka selalu ingin mengeksplorasi ranah-ranah berbeda dari film-film biasanya. Ini, lagi menurut saya, merupakan salah satu bukti adanya regenerasi yang baik dalam industri filmnya, dorongan-dorongan untuk selalu melahirkan sesuatu yang baru.

Terima kasih atas wawancaranya, sekali lagi selamat untuk tampil sebagai Actor in Focus di TIFF tahun ini dan semoga Anda terus bisa berkarir menampilkan akting hebat di film-film yang baik.

Oh saya lupa satu hal. Karena Anda dari Indonesia, saya mau bilang bahwa ada satu lagi aktor (aktris) yang saya harap suatu hari bisa bekerjasama dengan saya dalam satu film. Christine Hakim. Saya sangat ingin bekerjasama dengannya. She’s a really wonderful actress!

Sebuah kehormatan bagi kami. Akan saya sampaikan. Arigatou gozaimasu.

Sama-sama.


Share |


Berita Terkait :
Comments

© Copyright 2010 by Flick Magazine - Design by Hijau Multimedia Solution. All Rights Reserved.